Kala itu aku berjalan menapaki ilalang dari samping rumahmu. Semula aku tidak pernah bermaksud untuk menitip salamku pada angin yang berhembus dari depan rumahmu di senja itu. Aku menatap jajaran pinus di seberang sana, tepat di utara rumahmu. Aku memutuskan melewati padang ilalang menguning dan berjalan semakin menjauhi rumahmu. Aku masih bisa mencium wangi ilalang disore hari. Aku juga masih bisa mendengar gesekan ilalang disaat anak-anakmu berlari menapaki jalan ini.
Hutan ini begitu mesra menyambut kedatanganku ketika memasukinya. Aroma itu begitu kental dan begitu merasukiku. Terasa begitu keras dan tajam ciuman hutan pinus ini memenuhi tubuhku. Aku semakin tidak bisa melawan kerasnya makian yang terdengar menghujam telingaku saat ini. Mereka menciumku dengan penuh kebencian. Entah kenapa air mataku bercucuran di tengah heningnya senja di tengah hutan ini. Aku kembali melangkah semakin menjauhi hutan ini. Tak terasa rumahmu semakin tak tampak lagi. Aku semakin hilang di telan gelapnya malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar