Selasa, 13 Mei 2014

ILalang di sore hari



Suatu sore seorang anak berseru kepadaku, 

“lihat bu! Ilalang panen bu! Ilalang menyerupai padi di pematang bu!

Lalu kulihat ke arah ilalang yang di tunjuknya kepadaku



Kupandang satu persatu ilalang berbunga bulu putih berbenang coklat tua

Terayun-ayun, melambai-lambai kearahku


Rasanya ia tersipu malu menatapku

Rasanya ia tak mampu lagi tegak menjulang


Suatu sore, seorang anak berseru kepadaku

“mari bu kita ambil semua,, kita panen ambil semua rumpunnya , bak kapas kita 

tempah jadi satu jiwa. Biar kini batangnya tak menjulang lagi. Biar mimpi belaka 

yang menghantarkan sore hari lagi ke pangkalnya”

08-’11-‘12

Jumat, 09 Mei 2014

Pesan Hujan untuk Elen




Ada kesunyian di hatiku
Saat kau menawarkan payung buatanmu  itu untuknya,, 
Kau mengatakan padanya
Bahwa kau akan menunggunya
Hingga beberapa tahun kedepan.

Namun kepergiannya akan selalu memendamkan luka di hatimu
Saat ia pergi tanpa membawa payung yang kau buat,
Nampak segores luka di hatimu,, terpancar dari sinar matamu,,
Aku maklum untuk pertama kalinya kau rasakan rindu yang membekas





Namun hujan tidak jua turun Elen,,
Mungkin hujan itu juga turut senang
Saat dia tidak membawa serta payungmu,,

Tak ada ucapan,, hanya pesan
Dari hujan yang tak jadi turun di awal musim kemarau....

Mitwoch , den 6. Februar 2013

Ada Mawar di Saku Bajumu





Sore itu kau membeli mawar untuknya ,,
 Mawar putih yang masih dipetik pagi itu ,,
Kau memberinya namun ia tak menerimanya ,,
Akhirnya kau berikan mawar itu untukku ,,
Namun  kau pun tak  jadi memberikannya,,
Akhirnya kau selipkan mawar itu di saku bajumu ,,

       Disaat kau ingin pulang ke rumahmu ,,
              Bajumu itu tinggal di serambi rumahku ,,
                     Di sakumu itu kau simpan bungamu  itu ,,

Baju warna putih, 
seputih warna mawar yang tak jadi kau berikan untukku ,,


                    Ada Mawar di Saku Bajumu

08 – ’11 – ‘12

Kamis, 08 Mei 2014

Telah Kuantar



Telah kuantar mimpi itu semalam,

Namun aku tersesat  di tengah  jalan,

Di tengah sungai itu ada jembatan

Aku melangkah menaiki hingga ke langkan



Angin itu kini menusuk kulitku

Keringatku kini membeku, manusuk kulit kuningku

Aku takut mimpi itu akan menghilang, sebelum kucapai dusun tuamu..

Kakiku kembali menyusuri jembatan putih ditutupi badai kabut, dan diujung aku juga harus berhenti,

Ada 2 sisi jembatan dengan arah yang berbeda, sedang di tengah ada rumput emas.



Aku kembali berpikir tentang mimpi itu, sedang kau hanya melukis mimpi yang tak ku mimpikan....

Dan kuputuskan untuk tidak mengantarnya...........



Telah kuantar, hanya sebatas ujung jembatan..........


Balige...